Ada yang mengatakan bahwa “kita baru akan menyadari bahwa kita sangat menyayangi sesuatu ketika kita kehilangannya. Mungkin itu ada benarnya. Tapi buatku, itu tak sepenuhnya benar. 17 Desember 2008 lalu, saya merasakan hal itu. Hari itu, tepat jam 12.30, saya kehilangan nenek tercinta setelah kurang lebih 2 minggu di rumah sakit. Saya bukan baru menyadari bahwa sangat menyayanginya setelah kehilangannya, tapi justru karena sangat menyayanginya-lah saya ikhlas kehilangannya. Karena dengan begitu, beliau bisa beristirahat dengan tenang, tanpa lagi disakiti oleh jarum-jarum infus. Tidurnya tidak lagi terganggu oleh selang-selang yang dipasang di tubuhnya.
Dialah alm.Nenekku, Hj.st.Khadijah, yang memiliki cinta yang tak terhingga jumlahnya. Kutitip beliau kepadaNya, untuk Dia jaga, Dia sayangi, Dia cintai, dan Dia tempatkan di tempat yang paling indah di sisiNya.

RS Grestelina, Lt.3, kamar 316, kamar dimana kami menjaga, merawat dan menemani nenek tercinta menjelang akhir hidupnya.
Buatku, rasa sayang itu tak perlu harus selalu diungkapkan, karena bibir tidak selamanya berkata benar. Biarkan jiwanya yang merasakan, biarkan hatinya yang menjawab bahwa rasa sayang itu selalu ada dan sangat besar untuknya ..
–sangat menyayangimu, nek–








