Sorowako di Malam itu…

Sorowako di Malam itu

15 Februari 2011

Mengakhiri pembicaraan di telpon bersama Asnii, Bapaknya Dea dan juga bapaknya Dikra malam itu melalui conference call kira-kira jam 9-an. Beberapa menit setelahnya, saya pun bergegas keluar kamar hendak mengunci pintu depan. Ku kunci pintu, lalu kumatikan lampu di ruang tamu. Lalu segera berjalan menuju kamar. Belum juga sampai di kamar, terjadi guncangan yang sangat hebat yang tidak lain adalah gempa. Ya, gempa bumi yang benar-benar membuat hidupku terasa berhenti sejenak. Kaki serasa tak menginjak ke lantai. Serasa mimpi, mimpi buruk yang tak pernah kubayangkan akan kualami disini. “Allahu Akbar…”, itu kalimat yang terus kuucap saat guncangan hebat itu terjadi. Aku pasrahkan hidupku di tanganNya saat itu. Tapi jika ku boleh meminta, jangan akhiri hidupku dengan cara seperti ini. Aku ingin kelak jika waktuku tlah habis, ku ingin dengan damai, bukan dengan rasa takut seperti ini. Tapi kembali lagi, kita lahir atas kehendakNya. Begitu pula saat kita Dia panggil. Itulah yang kupikirkan saat itu. Satu kebodohanku, mungkin karena begitu paniknya, ku tak berusaha untuk segera keluar dari rumah, padahal guncangan gempa sangat dahsyat malam itu. Ya Tuhan, tak bisa kujelaskan seberapa gelisah hatiku melihat semua orang ketakutan. Hanya bisa berharap, semoga ini bisa berlalu.

Malam itu, pasca gempa, dalam kegelapan karena listrik padam, ku berdiri di depan pagar sendirian. Tiba2 orang2 ramai berteriak “air naik..lariiiiii…”, sambil berlari, berusaha menyelamatkan diri dan keluarga. (kebetulan ku tinggal tidak begitu jauh dari danau). Mendengar itu, tak bisa kugambarkan lagi perasaanku. Ku sendiri, dan tak tahu harus kemana. Sumpah, ku rindu keluargaku tiba2. Kubayangkan ada mereka bersamaku. Tentu tak akan ketakutan seperti itu jika ada mereka. Lalu dengan kebingungan ku berlari mengikuti orang2. Di depan kulihat tetanggaku (biasa ku panggil aji) mengunci pagarnya dan segera akan pergi dengan mobilnya. Tanpa pikir panjang, ku berjalan ke arahnya. Tak kusadari kalimat ini keluar dari mulutku “Aji, bolehkah saya ikut…?”. Meskipun kesannya sedikit mengemis, tapi dengan senang hati beliau mengiyakan. Sy pun ikut ke mobilnya malam itu. Hanya dengan bercelana pendek, beruntung masih sempat ku tarik cardigan abu2 yang ada di kursi ruang tamu. Hanya satu yang berusaha kuselamatkan. Ialah ponselku. Itu yang paling penting saat itu. karena bisa kupakai untuk menghubungi keluargaku. Kembali ke pelarian kami. Malam itu kami menuju ke Jl.G.Merapi di daerah F. karena daerah itu merupakan dataran tinggi yang mungkin tidak akan terjangkau air jika saja air danau benar2 meluap.

Kami di tempat itu hingga pukul 12 malam. Ternyata air danau meluap itu hanya isu. Tak benar2 terjadi. Alhamdulillah. Tapi, meskipun begitu, badai belum berlalu. Masih banyak gempa2 susulan yang terjadi hingga pagi. Membuat kami sulit memejamkan mata karena berjaga-jaga. Sewaktu-waktu harus benar2 mengungsi ke tempat yang lebih aman. Dengan membiarkan pagar dan pintu rumah terbuka lebar, kami pun berbaring sekedar mengistirahatkan badan pasca ketegangan besar terjadi.

Akibat dari gempa tersebut, inilah yang terjadi pada pinggiran danau…

Gempa bumi Sorowako

Be Sociable, Share!

    You may also like...

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.