Bahagia Itu Sederhana

Kemarin , sepulang kerja saya mampir di pasar Towuti untuk membeli beberapa kebutuhan. Lalu mampir di penjual buah, membeli semangka untuk anakku yang vegetarian. hehehehe. (Azka itu paling susah makan nasi, dia menghabiskan 1 semangka tiap hari dari pagi sampai malam).  šŸ™„ 
Lanjut, di perjalanan pulang, mampir beli es mataram. Sambil tunggu si bapak yang lagi membuat es, saya ngadem di dalam mobil. sambil memperhatikan ibu dan anak yang tinggal di sebuah gubuk rumah kecil berukuran sekitar 2×2 meter. Mereka jualan pisang, dan beberapa macam sayuran. Saya bertanya2 dalam hati, apa mereka menetap disitu ya? ataukah hanya sementara karena ada kerjaan.  Saya terus memperhatikan mereka. Terlihat jelas, ibu ini sangat menyayangi anaknya. Dia terus tersenyum sambil memandangi tingkah anaknya dan sesekali memeluk dan menciumnya. Selang beberapa menit, ada seorang pria yang datang. Mungkin itu ayah anak itu. Sepertinya diapun baru pulang kerja. Saya lebih takjub lagi. Ayahnya pulang sambil tersenyum lalu memeluk dan mencium anaknya. Padahal dari wajahnya, kelihatan sekali kalau bapak itu benar2 kelelahan. Sesekali dia mengelap keringatnya dengan handuk. Seperti gambar yang sempar saya ambil, seperti itulah suasananya saat itu. Ternyata bahagia itu sesederhana itu ya. šŸ™‚

Sebenarnya, saya cuma mau bilang, saya iri sama ibu itu. Dia bisa bersama anaknya selama 24 jam dalam sehari. Sementara saya, 5 hari dalam seminggu harus meninggalkan azka dari jam 7.30 sampai jam 5 sore. 

 

Be Sociable, Share!

    You may also like...

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *